REMBANG – Pendidikan tidak hanya sebatas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membentuk karakter melalui keteladanan, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Prinsip tersebut menjadi bagian dari pendekatan pendidikan yang diterapkan SMP Negeri 1 Sarang, Kabupaten Rembang.
Kepala SMP Negeri 1 Sarang, Sudrajad, S.Pd., mengatakan guru memiliki tanggung jawab bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendidik yang menjadi contoh bagi peserta didik.
“Guru itu bukan hanya mengajar, tetapi juga mendidik. Anak-anak membutuhkan pengetahuan sekaligus contoh nyata dari orang dewasa di sekitarnya. Karena itu, guru harus mampu menjadi teladan dalam sikap, kedisiplinan, tanggung jawab, dan cara memperlakukan orang lain,” ujar Sudrajad saat berbincang dengan awak media faktahukum.co.id di ruang kerjanya, Kamis (10/9/2026).
Sinergi Sekolah dan Pondok Pesantren
Dalam menangani siswa yang sekaligus menjadi santri di pondok pesantren, Sudrajad menjelaskan pihak sekolah mengedepankan komunikasi dan koordinasi dengan pengurus pondok.
Menurutnya, kondisi setiap siswa perlu dipahami secara proporsional sebelum sekolah menentukan langkah pembinaan.
“Jika ada anak terlambat masuk sekolah karena belum makan atau masih menunggu kesiapan makanan dari pondok, pihak sekolah berkoordinasi dengan pengurus pondok. Kita tidak ingin langsung menyalahkan anak, tetapi memahami penyebabnya dan mencari solusi bersama agar kebutuhan anak terpenuhi dan pembelajaran tetap berjalan baik,” jelasnya.
Salah seorang siswa SMP Negeri 1 Sarang yang juga santri PP MISTQ Sarang, Al Ziyad (13), asal Muara Bungo, Jambi, mengaku pernah satu kali terlambat masuk sekolah karena kesiangan.
“Saya makan dari pondok sekitar pukul 06.40 WIB, kemudian berangkat pukul 06.50 WIB dan sampai di sekolah sekitar pukul 07.00 WIB. Saya juga mengikuti tahfidz di SMP Negeri 1 Sarang,” tutur Al Ziyad.
Ia mengaku senang menempuh pendidikan di SMP Negeri 1 Sarang karena selain mengikuti kegiatan belajar mengajar, siswa juga mendapatkan kesempatan mengikuti berbagai kegiatan keagamaan dan ekstrakurikuler.
“Gurunya baik-baik. Di sekolah banyak kegiatannya, ada tahfidz, kaligrafi, salat berjamaah Dhuhur, dan kegiatan lainnya,” ungkapnya.
Keberhasilan Pendidikan Terlihat dari Perubahan Karakter
Sudrajad menegaskan, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari tersampaikannya materi pelajaran. Perubahan sikap, kedisiplinan, kemandirian, dan kemampuan peserta didik menerapkan nilai-nilai yang dipelajari juga menjadi bagian penting dari proses pendidikan.
Karena itu, kolaborasi sekolah, pondok pesantren, dan keluarga dinilai penting dalam mendampingi peserta didik agar berkembang menjadi pribadi yang berpengetahuan, berkarakter, mandiri, dan bertanggung jawab.
“Pada akhirnya, keberhasilan guru bukan hanya ketika materi tersampaikan, tetapi ketika anak benar-benar belajar dan mengalami perubahan menjadi lebih baik,” pungkas Sudrajad.
Reporter: Mu’ti Hartono RR
Editor: Adunk








