BOM WAKTU KEKUASAAN: JANGAN TUNGGU JATUH UNTUK SADAR DIRI!

Ilustrasi Editorial

KEKUASAAN bukan alasan untuk menjadi sombong. Jabatan bukan tiket untuk bersikap angkuh. Dan kewenangan bukan pembenaran untuk memperlakukan orang lain seolah-olah tidak memiliki harga diri.

Ketika seseorang mulai merasa paling berkuasa, antikritik, dan enggan menghargai orang lain, di situlah alarm bahaya seharusnya berbunyi.

Sebab, yang paling berbahaya dari kekuasaan bukanlah besarnya kewenangan, melainkan hilangnya kesadaran bahwa setiap kewenangan memiliki batas dan setiap tindakan memiliki konsekuensi.

Dalam kehidupan publik, wartawan bukan bawahan pejabat. Wartawan menjalankan fungsi jurnalistik untuk mencari fakta, meminta klarifikasi, mengawasi kekuasaan, dan menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Pertanyaan wartawan bukan otomatis serangan. Kritik bukan selalu permusuhan. Dan permintaan konfirmasi bukan alasan untuk merendahkan profesi.

Pejabat memiliki hak untuk menjawab, mengoreksi, dan menyampaikan keberatan melalui mekanisme yang sah. Namun, jabatan publik menuntut keterbukaan, etika, dan kesediaan mempertanggungjawabkan tindakan kepada masyarakat.

Pers tidak harus selalu disukai oleh kekuasaan. Namun, kerja jurnalistik yang dilakukan secara profesional wajib dihormati, sebagaimana wartawan juga wajib mematuhi hukum dan Kode Etik Jurnalistik.

Jangan salah mengartikan penghormatan sebagai ketundukan. Pers yang independen tidak dibangun untuk menyenangkan pejabat, melainkan untuk memastikan kepentingan publik tidak tenggelam di balik kepentingan kekuasaan.

Pangkat dan jabatan memiliki batas waktu. Hari ini seseorang mungkin memiliki kewenangan, tetapi suatu saat kewenangan itu akan berakhir. Yang tertinggal adalah rekam jejak, keputusan, dan bagaimana ia memperlakukan orang lain ketika berada di puncak kekuasaan.

Kesombongan bisa menjadi bom waktu bagi kepercayaan publik. Ketika kritik terus diabaikan dan komunikasi ditutup, jarak dengan masyarakat dapat semakin lebar. Ketika kepercayaan terkikis, jabatan saja tidak cukup untuk mengembalikannya.

Karena itu, siapa pun yang memegang kekuasaan perlu memahami satu hal: kewibawaan tidak lahir dari rasa takut orang lain, melainkan dari integritas, keteladanan, dan tanggung jawab.

Jangan tunggu kehilangan kepercayaan untuk belajar menghargai. Jangan tunggu jabatan berakhir untuk menyadari pentingnya etika.

Kekuasaan bisa membuat seseorang berada di atas, tetapi hanya integritas yang membuatnya layak dihormati.

Inilah pengingat bagi setiap pemegang jabatan dan kewenangan: tetaplah rendah hati, terbuka terhadap kritik, dan hormati profesi yang menjalankan fungsi kontrol sosial.

Sebab, jabatan adalah amanah, bukan mahkota untuk menyombongkan diri.

REDAKSI FAKTA HUKUM INDONESIA

Editorial ini merupakan pandangan redaksi mengenai etika kekuasaan, independensi pers, dan akuntabilitas publik.

Komentar

Komentar

Mohon maaf, komentar belum tersedia

Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.

Berita Terkait

Search