Wabup Hanies Buka SLI 2026, Cetak Petani Tangguh Hadapi Perubahan Iklim

Pembukan SLI

REMBANG — Wakil Bupati Rembang H. Mochamad Hanies Cholil Barro’ membuka Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tahun 2026 di Aula Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang, Rabu (26/8/2026).

Kegiatan yang digelar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Jawa Tengah tersebut mengusung tema “Cerdas Membaca Iklim, Tangguh Hadapi Perubahan untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan.”

Turut hadir Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto, S.Stat., M.Ti., Direktur Perubahan Iklim BMKG Dr. A. Fachri Radjab, S.Si., Anggota Komisi V DPR RI Harmusa Oktaviani, S.E., M.H., serta 50 peserta yang terdiri dari petani, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), dan petugas Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dari delapan kecamatan.

Wabup Hanies mengatakan dampak perubahan iklim saat ini sudah nyata dirasakan sektor pertanian. Pergeseran musim hujan, kemarau yang lebih panjang, banjir, rob di wilayah pesisir, hingga serangan hama dan penyakit tanaman yang sulit diprediksi menjadi tantangan bagi petani.

“Perubahan iklim sudah nyata di depan mata kita. Kemampuan membaca perubahan iklim merupakan kebutuhan dasar petani saat ini. Jika kita tidak cepat beradaptasi, maka yang dirugikan adalah petani kita dan ketahanan pangan Kabupaten Rembang,” kata Hanies.

Dalam sambutannya, Hanies turut mengaitkan tantangan perubahan iklim dengan kearifan lokal pertanian. Menurutnya, dahulu petani menggunakan pranata mangsa sebagai pedoman menentukan musim dan kegiatan bercocok tanam. Namun, perubahan pola iklim membuat petani kini membutuhkan dukungan informasi dan teknologi yang lebih adaptif.

Ia kemudian memperkenalkan gagasan Asta Usaha Tani, dengan menempatkan literasi iklim sebagai salah satu kemampuan penting bagi petani.

“Dulu kita mengenal Panca Usaha Tani, berkembang menjadi Sapta Usaha Tani. Dan sekarang ditambah satu lagi, yaitu Literasi Iklim. Dengan demikian menjadi Asta Usaha Tani. Delapan usaha tani,” tegasnya.

Melalui SLI 2026, selama satu musim tanam peserta akan dibekali tiga kompetensi utama, yakni memahami informasi cuaca dan iklim dari BMKG; menganalisis risiko untuk menentukan komoditas dan waktu tanam; serta melakukan adaptasi melalui teknologi hemat air, varietas tahan kekeringan, pembuatan sumur resapan, dan penyusunan kalender tanam berbasis iklim.

Peserta juga mendapatkan materi dari narasumber BMKG, mengikuti diskusi partisipatif bersama petani dan penyuluh, serta praktik menggunakan aplikasi Info BMKG.

“Dari Sekolah Lapang Iklim ini, saya berharap petani mampu mengambil keputusan tanam yang lebih tepat, mengurangi risiko gagal panen, menjaga produktivitas, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi agar tidak terjadi inflasi pangan,” ujarnya.

Dalam kesempatan jumpa pers, Hanies turut menyinggung kondisi inflasi Kabupaten Rembang yang dinilainya masih terkendali.

“Alhamdulillah, upaya kita membuahkan hasil. Inflasi di Kabupaten Rembang year to year per Juli 2025 ke Juli 2026 yang dipublikasikan 3 Agustus lalu hanya 2,23 persen. Angka ini di bawah inflasi Provinsi Jawa Tengah sebesar 2,6 persen,” terangnya.

Menurut Hanies, manfaat SLI tidak boleh berhenti pada peserta yang mengikuti pelatihan. Pengetahuan mengenai iklim diharapkan dapat diteruskan kepada petani lainnya di wilayah masing-masing.

“Kami menyambut baik kegiatan ini karena sangat bermanfaat bagi petani kita. Saya berharap para peserta yang saat ini mengikuti sekolah dapat menyebarkan ilmunya kepada petani lain, sehingga manfaatnya menjadi lebih luas,” ucapnya.

Ia bahkan mendorong peserta SLI menjadi “Juru Iklim Desa” yang mampu membantu petani memahami informasi cuaca dan iklim sebagai dasar menentukan langkah pertanian.

“Kepada BMKG, Dinas Pertanian, dan para penyuluh, saya ucapkan terima kasih. Mohon dampingi petani kita sampai mereka benar-benar mandiri,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Rembang, lanjut Hanies, berkomitmen mendukung pelaksanaan SLI sebagai bagian dari upaya memperkuat sektor pertanian dan ketahanan pangan daerah.

“Karena ketahanan pangan adalah fondasi dari Rembang yang Sejahtera. Jika pertanian kita kuat menghadapi iklim, maka ekonomi kita juga akan kuat,” ungkapnya.

Senada, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang Agus Iwan Haswanto menekankan pentingnya pemanfaatan informasi cuaca dan iklim dalam pengelolaan pertanian.

“Kita memahami bahwa pertanian sangat tergantung pada kondisi cuaca dan iklim. Kesadaran serta pemahaman yang baik terhadap informasi cuaca dan iklim, baik oleh petani, petugas penyuluh, maupun petugas teknis, akan sangat membantu dalam mengelola pertanian kita,” tutupnya.

Reporter: Mu’ti Hartono RR | Editor: Adunk

Komentar

Komentar

Mohon maaf, komentar belum tersedia

Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.

Berita Terkait

Search