KABUPATEN BOGOR — Pemerintah Desa Cihideung Udik, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, mulai mempersiapkan pelaksanaan program Digital Desa sebagai bagian dari Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Akselerasi Pembangunan Perdesaan Tahun 2026.
Persiapan dilakukan melalui edukasi awal kepada ketua RT, RW, serta petugas yang nantinya melakukan pendataan masyarakat di wilayah masing-masing.
Kepala Desa Cihideung Udik, H. Denny, mengatakan Digital Desa merupakan bagian dari program Pemerintah Kabupaten Bogor. Selain Digital Desa, terdapat program Satu Sarjana Satu Desa (SASADES), Daya Pajajaran, serta pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan konektivitas antarwilayah.
“Hari ini kita memberikan edukasi baru buat RT, RW dan para petugas yang nantinya akan meng-input data di wilayah masing-masing. Harapannya, ketika data ini validasinya kuat, pemerintah desa maupun Pemerintah Kabupaten Bogor sebagai muara data bisa mengakselerasikan program-program lanjutannya,” ujar H. Denny, Rabu (23/9/2026).
Menurutnya, akurasi data diperlukan sebagai salah satu dasar dalam menentukan skala prioritas pembangunan. Dalam pelaksanaannya, petugas akan melakukan pendataan melalui aplikasi menggunakan telepon seluler dan akun yang telah disediakan.
“Jadi tidak repot. Masing-masing petugas menggunakan handphone dan akun yang sudah diberikan. Untuk operasional juga sudah ada anggarannya, termasuk untuk menunjang tugas para petugas dalam melakukan penginputan data di lapangan,” jelasnya.
H. Denny mengatakan, kegiatan tersebut merupakan tahap awal sebelum pelatihan teknis bagi petugas pendataan. Pelatihan direncanakan melibatkan petugas dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Bogor.
Desa Cihideung Udik memiliki 48 RT dan 15 RW dengan jumlah penduduk sekitar 6.000 jiwa. Melalui Digital Desa, pemerintah desa berharap memperoleh data yang lebih mutakhir sekaligus melakukan pencocokan dengan data yang telah tersedia sebelumnya.
“Ini sangat luar biasa. Terima kasih kepada Pak Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Bogor. Program ini diharapkan bisa menyelaraskan data yang selama ini mungkin masih tumpang tindih, sehingga setelah divalidasi kita memiliki data yang akurat dan menjadi patokan ke depannya,” katanya.
Selain Digital Desa, Pemdes Cihideung Udik juga mempersiapkan program Daya Pajajaran yang dipusatkan di RW 9. Program tersebut memadukan pemberdayaan masyarakat, kebersihan lingkungan, dan penguatan identitas budaya Sunda.
Salah satu potensi lokal yang akan dimanfaatkan adalah bambu. Menurut H. Denny, pemanfaatannya diharapkan dapat melibatkan berbagai kelompok masyarakat.
“Bambu yang ada di sekitar wilayah kita bisa dimanfaatkan dan masyarakat juga bisa diberdayakan, termasuk ibu-ibu. Para bapak atau warga laki-laki menebang bambu, sementara kaum perempuan ikut dalam proses mencuci bambu. Jadi ada rentetan kemanfaatan dan pemberdayaan masyarakat,” ungkapnya.
Konsep Daya Pajajaran juga direncanakan menghadirkan ornamen bernuansa kesundaan sekaligus mendorong kepedulian masyarakat terhadap kebersihan dan lingkungan.
H. Denny berharap masyarakat mendukung pelaksanaan Digital Desa dengan memberikan informasi yang dibutuhkan petugas pendataan secara benar.
“Harapannya masyarakat lebih terbuka ketika ditemui para petugas. Data ini bukan untuk ke mana-mana, tetapi diperlukan untuk validasi dan menjadi modal utama dalam menentukan program-program ke depan,” pungkasnya.
Reporter: Masnun
Editor: Adunk









