REMBANG – Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si., bersama KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha’ menekankan pentingnya keimanan, nasionalisme, serta sinergi ulama dan umara dalam menjaga persatuan dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Ngaji Kebangsaan di Pondok Pesantren LP3IA Al-Qur’an, Desa Narukan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Sabtu (26/9/2026).
Kegiatan pembinaan rohani tersebut diikuti sekitar 700 peserta secara langsung, terdiri atas 300 santri dan 400 personel Polri dari sejumlah wilayah sekitar Rembang. Sementara secara daring, kegiatan diikuti 41.449 personel Polri dari 36 Polda dan 517 Polres jajaran di seluruh Indonesia.
Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang pembinaan spiritual serta penguatan hubungan antara pesantren, ulama, dan jajaran kepolisian.
Kapolri mengatakan kesempatan menimba ilmu secara langsung dari Gus Baha’ merupakan momentum berharga bagi jajaran Polri. Ia mengajak seluruh personel menyimak nasihat keagamaan sebagai bekal dalam menjalankan tugas di tengah masyarakat.
“Kita semua tahu, untuk bisa mengajak Gus Baha’ pindah dari pondok pesantren adalah sesuatu yang sangat langka. Tidak semua institusi mendapatkan ini,” ungkap Kapolri.
Dalam mauidah hasanahnya, Gus Baha’ mengaitkan sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan pentingnya keimanan sebagai landasan moral.
Menurutnya, kepercayaan kepada Allah Swt. dapat menjadi pengendali perilaku manusia, sehingga seseorang tidak hanya takut terhadap hukum dan sanksi sosial, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjauhi perbuatan buruk.
“Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa itu menurut saya satu kenikmatan yang luar biasa. Karena ada hal-hal yang hanya bisa dijelaskan kalau kita percaya adanya Tuhan Yang Maha Esa,” ucapnya.
Gus Baha’ juga menekankan bahwa nasionalisme perlu diwujudkan melalui perilaku nyata, di antaranya menjaga persatuan, menghormati perbedaan, serta membangun sikap positif terhadap bangsa sendiri.
Ia mengingatkan agar kemajuan negara lain tidak menjadi alasan untuk merendahkan Indonesia.
“Kalau suatu saat Anda melihat Inggris atau Swiss tatanannya baik, Anda jangan lalu benci Indonesia tidak seperti Inggris. Kata saya, Anda pecundang,” tandasnya.
Terkait hubungan ulama dan umara, Gus Baha’ menyebut keduanya memiliki peran yang saling melengkapi dalam menjaga stabilitas dan kemaslahatan negara.
Ia juga mengingatkan bahwa tugas kepolisian tidak semata-mata mengedepankan penindakan hukum, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat melalui pembinaan dan keteladanan.
“Ulama dan umara itu seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi dalam menjaga kestabilan dan kemaslahatan negara,” tuturnya.
Menutup tausiyahnya, Gus Baha’ mengingatkan bahwa menjaga keamanan merupakan tanggung jawab bersama. Polisi, ulama, tokoh masyarakat, maupun masyarakat memiliki peran sesuai kapasitas masing-masing dalam menciptakan ketertiban.
“Harusnya salat itu ibadah yang menjadikan orang untuk tidak berbuat jelek. Sama, harusnya polisi itu yang jaga keamanan. Jangan sampai ada oknum polisi yang mengacaukan keamanan. Harusnya, itu satu konstitusi dari keharusan. Tapi masalahnya, lagi-lagi ini kan manusia,” pungkasnya.
Kegiatan Ngaji Kebangsaan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin Romo KH Muhammad Ahmad Ainul Yakin.
Reporter: Mu’ti Hartono RR
Editor: Adunka









