REMBANG – Pemerintah Kabupaten Rembang terus memperkuat komitmen dalam menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) melalui penguatan inovasi TELPONI (Temokno, Laporno, Openi) yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Komitmen tersebut ditegaskan Bupati Rembang, H. Harno, S.E., saat membuka Penggalangan Komitmen Bersama Lintas Sektor dalam Program Penurunan AKI dan AKB melalui Penguatan Inovasi TELPONI Tahun 2026 di Hotel ASTON Inn Rembang, Rabu (29/7/2026).
Turut mendampingi Bupati Rembang dalam kegiatan tersebut, Asisten II Sekretariat Daerah Kabupaten Rembang sekaligus Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Rembang, Mardi, S.Pd., M.T., Asisten III (Asisten Administrasi Umum) Sekretariat Daerah Kabupaten Rembang, Sri Jarwati, M.Pd., M.H., serta Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, dr. H. Ali Syofii, M.M. Kegiatan tersebut juga dihadiri jajaran perangkat daerah, tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader kesehatan, organisasi profesi, serta berbagai pemangku kepentingan sebagai wujud komitmen bersama dalam percepatan penurunan AKI dan AKB di Kabupaten Rembang.
Dalam laporannya, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, dr. H. Ali Syofii, M.M., menyampaikan bahwa Kabupaten Rembang berhasil mencatatkan capaian terbaik sepanjang sejarah dalam upaya menekan angka kematian ibu dan bayi. Berdasarkan data tahun 2025, Angka Kematian Ibu (AKI) tercatat 5 kasus atau sekitar 72 kematian per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB) tercatat 96 kasus atau sekitar 14 kematian per 1.000 kelahiran hidup.
“Capaian ini merupakan yang terendah sepanjang sejarah Kabupaten Rembang. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kepemimpinan Bupati Rembang, dukungan seluruh pemangku kepentingan, serta implementasi inovasi TELPONI yang memperkuat deteksi dini, pelaporan cepat, dan penanganan terpadu terhadap ibu hamil dan bayi berisiko,” ungkapnya.
Meski mencatatkan hasil yang membanggakan, dr. Ali Syofii mengingatkan agar seluruh jajaran tidak berpuas diri. Menurutnya, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan harus terus dilakukan melalui kolaborasi yang semakin kuat.
“Prestasi ini harus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Sinergi pemerintah, tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader kesehatan, dan masyarakat merupakan kunci agar angka kematian ibu dan bayi dapat terus ditekan,” tandasnya.
Sementara itu, Bupati Rembang H. Harno, S.E., menegaskan bahwa upaya menekan AKI dan AKB merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat, disertai pemerataan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan.
“Alhamdulillah, angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Rembang terus menunjukkan tren penurunan. Namun, ketika saya menanyakan kepada Kepala Dinas Kesehatan, ternyata belum seluruh desa memiliki Puskesmas Pembantu (Pustu). Hal ini menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Kabupaten Rembang agar akses pelayanan kesehatan semakin dekat, cepat, dan merata bagi masyarakat,” katanya.
Bupati juga menyoroti masih terbatasnya jumlah tenaga kesehatan, khususnya dokter dan perawat, yang menjadi tantangan dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan.
“Kita masih membutuhkan tambahan dokter dan perawat. Pemerintah Kabupaten Rembang akan terus berupaya memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan, memperluas ketersediaan Puskesmas Pembantu, serta melengkapi sarana dan prasarana kesehatan agar pelayanan kepada masyarakat, khususnya ibu hamil, ibu melahirkan, dan bayi, semakin optimal,” pungkasnya.
Reporter: Mu’ti Hartono I Editor: Adunk









