REMBANG — Wakil Bupati Rembang, H.M. Hanies Cholil Barro’, menegaskan pentingnya menjadikan donor darah sebagai budaya masyarakat, bukan sekadar kegiatan insidental. Hal itu disampaikan saat rapat koordinasi Palang Merah Indonesia (PMI) di ruang pertemuan PMI Rembang, Senin (6/4/2026).
Ia menjelaskan, kebutuhan darah di Kabupaten Rembang masih memerlukan perhatian serius, terutama pada momen tertentu seperti Ramadan dan Lebaran.
“Pada periode tersebut, stok darah cenderung menurun, khususnya golongan darah B,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat untuk rutin mendonorkan darah masih perlu ditingkatkan.
“Donor darah harus menjadi kebiasaan, bukan hanya dilakukan saat ada kebutuhan mendesak,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menilai kegiatan donor darah yang selama ini telah berjalan di beberapa kecamatan perlu diperluas agar lebih masif dan melibatkan lebih banyak elemen masyarakat.
“Jika dilakukan secara rutin dan meluas, ketersediaan darah akan tetap terjaga tanpa harus menunggu kondisi darurat,” tambahnya.
Selain itu, Wabup juga mendorong penguatan tata kelola organisasi PMI melalui digitalisasi. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas lembaga.
“Digitalisasi akan memperkuat kepercayaan publik serta mendorong partisipasi masyarakat dalam kegiatan kemanusiaan,” tandasnya.
Ia berharap, sinergi antara pemerintah daerah, PMI, dan masyarakat dapat terus ditingkatkan guna menjamin ketersediaan darah di Kabupaten Rembang.
“Ini adalah tanggung jawab bersama demi kemanusiaan,” tutupnya.
Reporter: Mu’ti Hartono I Editor: Adunk













