REMBANG – Ratusan pendidik dari berbagai jenjang pendidikan, mulai PAUD, TK,SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi, mengikuti Temu Pendidik Nusantara (TPN) XIII Kabupaten Rembang yang digelar di Panggung GRITUSA, SMP Negeri 1 Sarang, Sabtu (11/7/2026). Kegiatan yang diinisiasi Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Rembang ini menjadi wadah kolaborasi, berbagi praktik baik, serta memperkuat kompetensi guru dalam mewujudkan pendidikan yang berpihak kepada peserta didik. Sebelum acara dimulai, seluruh peserta mengikuti prosesi pembukaan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan Hymne Profesi, sebagai wujud penghormatan terhadap profesi pendidik sekaligus penguatan semangat pengabdian.
Kepala SMP Negeri 1 Sarang, Sudrajad, S.Pd., mengaku bangga sekolahnya dipercaya menjadi tuan rumah TPN XIII. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antarguru dalam meningkatkan mutu pendidikan. Senada dengan itu, Ketua Panitia TPN XIII Kabupaten Rembang, Zakiyatun Nisa, mengatakan bahwa TPN merupakan ruang belajar bersama bagi guru lintas jenjang.
“Guru tidak bisa berkembang sendirian. Kita membutuhkan ruang untuk saling belajar, saling menguatkan, dan saling berbagi praktik baik agar mampu menghadirkan pembelajaran yang semakin berkualitas bagi peserta didik. Antusiasme guru sangat luar biasa, terbukti hampir 80 guru mengirimkan misi belajar dan 58 di antaranya lolos kurasi untuk berbagi praktik baik,” katanya.
Dalam sambutannya, Inisiator Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Rembang, Ning Nadia Jirjiz Ghofur, menegaskan bahwa Temu Pendidik Nusantara bukan sekadar kegiatan tahunan, melainkan gerakan bersama untuk membangun budaya belajar dan kolaborasi antarguru.
“Temu Pendidik Nusantara adalah ruang untuk saling belajar, saling menguatkan, dan saling mendukung. Guru tidak boleh berjalan sendiri karena memiliki tujuan yang sama, yaitu menghadirkan pendidikan terbaik yang berpihak kepada murid,” terangnya.
Sesi Bincang Pendidikan yang dipandu Yanti Sulistyowati, M.Pd., menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Chrismastuti, M.Pd., H. Mukson, S.Ag., M.Pd.I., Isti Choma Wati, M.Pd., Oktavirasa, S.H., dan Eny Alfiyani, M.Pd. Dalam paparannya, Chrismastuti menjelaskan bahwa dunia pendidikan di Kabupaten Rembang masih menghadapi tantangan berupa pemerataan guru, kekurangan kepala sekolah definitif, pemerataan sarana dan prasarana, serta peningkatan kompetensi guru. Sementara itu, H.M. Mukson menekankan pentingnya membangun karakter moderat dan budaya literasi sejak dini.
“Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Anak-anak harus dibekali karakter moderat agar mampu hidup berdampingan dengan siapa pun. Di sisi lain, budaya literasi kita masih memprihatinkan sehingga guru harus menjadi teladan dalam membaca,” ungkapnya.
Pandangan senada disampaikan Ketua PGRI Kabupaten Rembang, Isti Choma Wati, M.Pd., yang menegaskan bahwa pendidikan karakter berawal dari keluarga, sedangkan sekolah berperan memperkuat nilai-nilai tersebut. Ia juga menekankan pentingnya pelestarian bahasa ibu, termasuk bahasa Jawa, karena mengandung nilai-nilai kesantunan dan karakter. Sementara itu, Founder OKVISA sekaligus Analis Perekonomian Kabupaten Rembang, Oktavirasa, S.H., mendorong sekolah membekali peserta didik dengan jiwa kewirausahaan, kemampuan komunikasi, kreativitas, dan soft skills. Adapun Eni Alfiyati, M.Pd., selaku Badan Koordinasi Provinsi Jawa Tengah KGBN, menjelaskan bahwa KGBN secara rutin menyelenggarakan kegiatan belajar bersama setiap bulan sebagai wadah kolaborasi guru dan pada TPN XIII menyediakan sekitar 15 kelas belajar sesuai kebutuhan peserta.
Di sela-sela kegiatan, awak media faktahukum.co.id mewawancarai Ning Nadia Jirjiz Ghofur mengenai visi besar Temu Pendidik Nusantara. Ia menjelaskan bahwa tujuan utama TPN adalah membangun ekosistem belajar yang saling menguatkan bagi guru di seluruh Indonesia.
“Kami ingin menghadirkan ruang kolaborasi agar guru tidak berhenti belajar, berani berbagi praktik baik, dan terus berinovasi. Perubahan besar dalam pendidikan selalu diawali oleh guru yang mau belajar, bergerak, dan menginspirasi guru lainnya. Tantangan terbesar guru saat ini bukan hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi menjaga semangat untuk terus belajar dan saling mendukung, karena cita-cita seorang guru sejatinya hidup dalam cita-cita anak didiknya,” tegasnya.
Menutup rangkaian kegiatan, salah seorang peserta dari SD Aisiyah Kragan, Suprihatiningsih, S.Pd., mengaku memperoleh banyak inspirasi dari pelaksanaan TPN XIII.
“Temu Pendidik Nusantara menjadi ruang belajar yang sangat bermanfaat bagi kami untuk bertukar pengalaman, memperluas wawasan, dan memperkuat jejaring antarguru. Kami pulang tidak hanya membawa ilmu, tetapi juga semangat baru untuk terus berinovasi dalam pembelajaran. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut karena memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas guru dan kemajuan pendidikan di Kabupaten Rembang,” pungkasnya.
Reporter: Mu’ti Hartono I Editor: Adunk









