KOTA BEKASI – Predikat sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia tidak boleh berhenti pada peringkat dan penghargaan. Toleransi harus benar-benar hadir dan dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari tingkat kota hingga lingkungan tempat tinggal.
Pesan tersebut disampaikan Wali Kota Bekasi Tri Adhianto saat mengukuhkan kepengurusan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bekasi masa bakti 2026–2031 dalam apel pagi Pemerintah Kota Bekasi, Senin (31/8/2026).
H. Abdul Manan kembali dipercaya memimpin FKUB Kota Bekasi sebagai ketua untuk periode 2026–2031 bersama jajaran kepengurusan yang baru dikukuhkan.
Pengukuhan tersebut sekaligus membawa tantangan baru. Kota Bekasi yang disebut telah menempati peringkat kelima sebagai kota paling toleran di Indonesia ditargetkan tidak hanya mempertahankan capaian, tetapi meningkatkan kualitas toleransi melalui aksi nyata di tengah masyarakat.
“Peringkat kelima ini harus kita tingkatkan lagi. Jangan hanya menjadi sebuah angka atau penghargaan, tetapi harus diwujudkan melalui aksi toleransi yang nyata di setiap wilayah,” ujar Tri.
Menurut Tri, ukuran keberhasilan menjaga kerukunan tidak cukup dilihat dari posisi Kota Bekasi dalam pemeringkatan. Hubungan harmonis antarumat beragama, ruang komunikasi ketika muncul persoalan, serta kemampuan masyarakat menghargai perbedaan menjadi bagian penting dari praktik toleransi.
Karena itu, FKUB periode 2026–2031 didorong semakin aktif turun ke masyarakat dan menghadirkan program yang menyentuh langsung kehidupan warga.
Toleransi Jangan Hanya Jadi Seremoni
Tri juga meminta berbagai praktik kerukunan yang berlangsung di tengah masyarakat dapat diperlihatkan kepada publik. Salah satunya melalui dokumentasi dan publikasi kegiatan positif di media sosial.
“Kalau ada kegiatan-kegiatan toleransi di wilayah, lakukan dan kemudian upload di media sosial. Ini penting supaya masyarakat mengetahui bahwa FKUB dan seluruh elemen masyarakat aktif menjaga kerukunan,” katanya.
Publikasi tersebut diharapkan bukan sekadar membangun citra, tetapi juga menjadi sarana menyebarkan praktik baik dan mendorong masyarakat untuk ikut menjaga kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman.
Dalam kesempatan yang sama, Tri menyampaikan apresiasi kepada kepengurusan FKUB periode sebelumnya yang dinilai telah berkontribusi menjaga komunikasi dan kerukunan antarumat beragama di Kota Bekasi.
“Saya menyampaikan terima kasih kepada pengurus FKUB periode sebelumnya. Kerja keras dalam menyatukan visi dan menjaga kerukunan telah membuahkan hasil terbaik bagi Kota Bekasi. Perbedaan yang ada justru menjadi kekuatan dan tidak sampai menimbulkan bentrokan,” ungkapnya.
FKUB Dituntut Lebih Dekat dengan Warga
Dengan kepengurusan baru, FKUB Kota Bekasi kini menghadapi pekerjaan yang lebih substantif: memastikan kerukunan tidak hanya dibicarakan dalam forum formal, tetapi tumbuh hingga lingkungan masyarakat.
Dialog lintas agama, komunikasi antartokoh, edukasi toleransi kepada generasi muda hingga upaya mencegah gesekan sosial menjadi ruang yang dapat terus diperkuat.
Tri berharap kepengurusan FKUB 2026–2031 mampu melanjutkan capaian yang sudah dibangun sekaligus menghadirkan program yang semakin dekat dengan masyarakat.
Pada akhirnya, tantangan Kota Bekasi bukan semata mengejar posisi lebih tinggi dalam pemeringkatan kota toleran. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana setiap warga, apa pun agama dan keyakinannya, dapat hidup berdampingan, menjalankan ibadah, dan memperoleh rasa aman di tengah keberagaman Kota Bekasi.
Reporter: Agus Ridwan/Ndoet | Editor: Riki








