KOTA BEKASI – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memang tak terlihat di tengah kemeriahan Pesona Nusantara Bekasi Keren (PNBK) Jilid III. Namun, pesta budaya yang membanjiri kawasan Car Free Day (CFD) Ahmad Yani itu ternyata tak luput dari perhatian orang nomor satu di Jawa Barat tersebut.
Dari berbagai unggahan yang beredar di media sosial, Dedi Mulyadi atau akrab disapa KDM mengikuti kemeriahan PNBK dan memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Bekasi, aparatur sipil negara (ASN), serta masyarakat yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Pesan itu disampaikan KDM langsung kepada Wali Kota Bekasi Tri Adhianto melalui sambungan telepon. Hal tersebut diceritakan Tri saat memimpin apel pagi Pemerintah Kota Bekasi, Senin (31/8/2026).
Menurut Tri, KDM sekaligus menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Kota Bekasi karena tidak dapat hadir secara langsung dalam PNBK Jilid III yang digelar di kawasan CFD Ahmad Yani pada Minggu sebelumnya.
Meski hanya menyaksikan melalui media sosial, KDM menilai PNBK mampu menghadirkan keberagaman budaya Nusantara dalam satu panggung besar di Kota Bekasi.
“Sangat keren perayaan PNBK kemarin, sayang saya tidak hadir langsung melihat. Banyak warga yang senang melihat budaya di satu kota,” ujar Dedi Mulyadi sebagaimana disampaikan kembali oleh Tri Adhianto.
KDM Soroti Kentalnya Nuansa Multietnik
Perhatian KDM tertuju pada pawai budaya yang menampilkan berbagai pakaian adat dari sejumlah daerah di Indonesia. Kehadiran beragam identitas budaya tersebut dinilai menggambarkan karakter Kota Bekasi sebagai daerah yang dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang.
KDM juga memberikan apresiasi terhadap kirab bendera serta aksi sosial penggalangan dana untuk masyarakat terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ia turut menyampaikan terima kasih atas kolaborasi berbagai pihak, khususnya jajaran Pemerintah Kota Bekasi dan para pegawai yang ikut menyukseskan PNBK Jilid III.
Bagi Tri Adhianto, apresiasi tersebut menjadi motivasi bagi Pemkot Bekasi untuk terus merawat keberagaman dan kebudayaan Indonesia.
“Seluruh kerja sama yang dilakukan saat pelaksanaan PNBK ini menjadi sebuah kehormatan bagi kita dalam mempertahankan budaya Indonesia. Termasuk doa bersama yang dilakukan dengan melibatkan semua agama untuk mendoakan kota dan kabupaten yang tertimpa bencana di negeri tercinta ini,” kata Tri.
Bukan Cuma Pesta, Hampir Rp500 Juta Terkumpul untuk NTT
Di balik gegap gempita PNBK, ada angka yang menjadi perhatian. Tri mengungkapkan penggalangan dana bagi masyarakat terdampak bencana di NTT berhasil menghimpun dana hampir Rp500 juta hanya pada hari pelaksanaan kegiatan.
“Pada perayaan PNBK kemarin, tidak hanya rasa lelah dan gembira, tetapi kita menyelaraskan rasa empati kita dalam penggalangan dana untuk NTT yang telah terkumpul hampir Rp500 juta pada hari itu juga. Penggalangan akan ditutup sampai 18 September 2026 melalui rekening Patriot Berbagi,” ungkap Tri.
Capaian tersebut membuat PNBK tidak hanya menjadi panggung pertunjukan budaya. Di tengah ribuan warga yang menikmati kemeriahan acara, Pemkot Bekasi mencoba menggabungkan perayaan kebudayaan dengan gerakan solidaritas terhadap masyarakat yang sedang tertimpa musibah.
Tri berharap semangat tersebut tidak selesai bersama berakhirnya panggung PNBK.
Menurutnya, keberagaman budaya, persatuan dan kepedulian sosial harus menjadi kekuatan Kota Bekasi sebagai daerah dengan masyarakat yang berasal dari berbagai latar belakang.
PNBK Jilid III pun meninggalkan pesan lebih besar dari sekadar kemeriahan: sebuah pesta budaya akan kehilangan makna jika hanya berhenti pada panggung dan keramaian. Di Bekasi, kemeriahan itu coba diterjemahkan menjadi solidaritas—dengan hampir Rp500 juta terkumpul untuk membantu sesama.
Reporter: Deda/Ndoet | Editor: Adunk








